Friday, May 29, 2020

Penerapan New Normal Saat Pandemi Virus Korona

Posted by Indra on 8:58 PM with No comments

New normal adalah sebuah skenario untuk mempercepat penanganan COVID-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Saat ini pemerintah Indonesia telah mengumumkan rencana untuk mengimplementasikan skenario new normal. Adapun melakukan scenario ini dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional.

Dijelaskan jika daerah yang R0 (jumlah reproduksi virus) kurang dari 1, dapat menerapkan new normal. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, Kemenko akan mengusulkan mekanisme penilaian yang akan dilakukan. Baik berdasarkan perhitungan epidemiologi dan kapasitas regional dalam penanganan virus korona seperti pengembangan penyakit, pengendalian virus, dan kapasitas kesehatan.

Tingkatan Keparahan Pandemi

Bahkan telah dinyatakan jika beberapa daerah di Jawa telah menerapkan 5 level scoring dalam menangani keparahan pandemi, yaitu krisis, tingkat parah, substansial, sedang, dan rendah. Masing-masing pemerintah daerah diizinkan untuk mempersiapkan new normal jika daerah mereka berada di tingkat moderat atau sedang, dan juga beberapa sektor sedang mempersiapkan SOP untuk skenario new normal.

Pada sektor industri, telah diterima Circular yang sesuai dengan protokol Satuan Tugas COVID-19. Dinyatakan juga setelah studi tentang kapasitas daerah, sektor kesehatan, dan kementerian/lembaga, Pemerintah akan mengumumkan kebijakan yang dihasilkan.

Indikator Penerapan Fase New Normal

Ada beberapa indikator yang telah direncanakan oleh WHO untuk dipatuhi oleh semua negara di dunia dalam rangka menyesuaikan kehidupan normalnya. Adapun indikator yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Tidak Menambah Penularan / Mengurangi Penularan. 
Diketahui menurut Suharso, satu orang bisa menularkan sampai 2-3 orang, dan COVID-19 di seluruh dunia itu yang direkam oleh WHO adalah dari 1,9 sampai 5,7 R0-nya. Sementara untuk Indonesia, sampai hari ini telah diperkirakan 2,5 yang artinya 1 orang bisa menularkan ke 2 atau 3 orang. 
Menurut Menteri PPN, caranya dengan banyak hal dan ini tidak bisa melalui modifikasi cara kampanye vaksinasi, tidak, tetapi ini hanya dapat dimodifikasi melalui satu intervensi sosial yang bentuknya antara lain yang telah kita lakukan, seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pada masa sekarang.

2. Menggunakan Indikator Sistem Kesehatan 
Dengan menggunakan indikator sistem kesehatan yakni seberapa tinggi adaptasi dan kapasitas dari sistem kesehatan bisa merespons untuk pelayanan virus korona. Kapasitas pelayanan kesehatan yang disediakan itu, menurut Menteri PPN yaitu harusnya 60% dari total kapasitas kesehatan, misalnya, kalau sebuah rumah sakit punya 100 tempat tidur, maka maksimum 60 tempat tidur itu untuk Covid-19.

3. Surveilans 
Surveilans adalah cara menguji seseorang atau sekelompok kerumunan apakah dia berpotensi memiliki atau tertular virus korona atau tidak, sehingga dilakukan tes masif. Dengan kapasitas yang sekarang, tes yang dilakukan sudah naik 10.000 sampai 12.000 (tes per hari), bahkan kemarin tanggal 18 Mei sudah mencapai 12 ribu lebih tes, maka diharapkan dalam 1 bulan ke depan bisa mencapai angka 1.838 per 1 juta penduduk. Seperti arahan pemerintah, bahwa semua itu harus melakukan tes masif secara cepat dan dengan jumlah yang masif.

Nah, Adapun dengan ketiga indikator ini, Pemerintah nantinya akan menempatkan sebuah daerah itu siap atau tidak dan WHO mensyaratkan R0-nya tadi itu atau R0 pada waktu t atau Rt, itu setidak-tidaknya dalam waktu 14 hari.

Namun, dalam penerapannya dengan menjaga pola hidup sehat dan juga rajin berolahraga. Selain itu, bertanya pada dokter mengenai bagaimana pola hidup sehat dan trik untuk hidup sehat juga perlu dilakukan. Saat ini aplikasi Halodoc membantu anda dalam kemudahan untuk berkonsultasi tanpa perlu pergi ke rumah sakit atau tempat praktik. Anda bisa melakukan konsultasi dan mencari info seputar bagaimana menjalankan hidup yang sehat melalui aplikasi halodoc. Yuk, mulai terapkan hidup sehat. Selamat mencoba!

0 comments:

Post a Comment